Memulai kembali, suatu kalimat yang mungkin tidak semua orang bisa dan mau melakukannya. Termasuk Jane, seorang mahasiswi yang baru melempar toga wisudanya dua tahun lalu. Jane, yang dahulu dikenal seorang yang semangat, ramah, dan tidak pernah mengeluh. Sekarang lebih sering mengurung diri di kamar dengan wajah muram. Hal itu Jane rasakan sejak ia memutuskan berhenti bekerja seminggu lalu. Jane bekerja di salah satu perusahaan perintis di kotanya, dan termasuk pekerjaan pertamanya setelah lulus kuliah.
Dengan rasa percaya
diri bertemu dengan bagian manajer perusahaan dan menyampaikan maksud dia mengundurkan
diri. Mereka terkejut karena Jane bukanlah karyawan yang memiliki kinerja buruk
di kantor selama setahun bekerja. Jane beralasan berhenti untuk mengejar karir
lain yang lebih menjanjikan dan diminati saat itu. Dengan berat hati,
perusahaan mengizinkan permintaan Jane itu.
Setelah
memutuskan mundur, Jane berputar otak agar tetap bisa hidup. Jane juga tidak
tinggal sendiri. Dia masih mencukupi kebutuhan keluarga termasuk adiknya
yang baru masuk kuliah. Dengan sisa gaji yang dimilikinya, Jane berusaha melengkapinya
dengan menjadi seorang pekerja lepas. Ilmu yang dia ingat saat sekolah dan
kuliah ia gunakan dalam pekerjaannya. Namun, beberapa bulan menjalaninya, Jane
merasa seperti hampa. Sama saja, kecil dan rendah, begitu pikirnya.
Sembari
menjalani pekerjaan lepas itu, Jane juga berusaha melamar ke perusahaan lain
yang lebih menjanjikan itu. Namun, kemampuan dasar yang menjadi syarat dari
pekerjaan itu belum ia miliki. Karenanya, dia mencoba mengikuti kursus. Namun, Jane
yang ingin semuanya dia dapatkan dengan cepat merasa kecewa. Belum ada satupun
lamarannya yang diterima perusahaan itu. Begitu pula yang lain sejenisnya.
Dengan
sedih, Jane membuka gawainya, dan membuka laman Instagram yang dimilikinya,
berharap bisa mengobati kesedihannya. Namun, bukan sedih yang terobati, malah
rasa sakitnya makin bertambah karena melihat teman-teman semasa kuliahnya mendapat
pekerjaan yang dia inginkan. Berjalan-jalan keliling daerah, bahkan ada yang
hingga keliling dunia. Jane yang saat itu hanya bisa berkeliling di sekitar
rumah menangis melihatnya.
Karena hanya itu yang Jane pikirkan, orang berhasil namun ia tidak. Dia jadi tidak maksimal dalam pekerjaannya. Jane melakukan hanya setengah hati, tidak seperti saat pertama kali menjadi pekerja lepas itu. Suatu hari saat langit memerah tanda malam akan tiba, saat dia dalam perjalanan pulang, dia mampir ke sebuah tempat.
Jane teringat saat dia
berkuliah dulu, mentornya berkata jika kamu mengalami kesulitan, singgahlah ke
suatu tempat istimewa. Tempat dimana semua keluh kesah bisa ditumpahkan, tanpa
ada pendapat yang menghakimi. Dan dijamin setiap masalah akan terselesaikan.
Itulah Rumah Tuhan. Rasa sempit di dada yang tidak muat lagi terbendung, dapat disampaikan
pada Sang Pencipta, begitu kata mentornya.
Dengan perasaan yang campur aduk, dia singgah ke tempat itu. Tidak hanya dia sendiri, banyak orang lain yang juga ke sana. Saat semuanya berdoa, Jane menangis. Menangis tiada henti, menyampaikan rasa sesaknya kepada Sang Pemilik Hati. Dengan lirih ia meminta, berharap agar diberikan ketenangan. Seketika, Sang Pencipta menolongnya lewat ingatan Jane yang muncul tiga tahun lalu.
Jane berhasil untuk
menyelesaikan skripsinya dengan baik dan tepat waktu. Meski rintangan yang
ia hadapi datang bertubi-tubi, meski Jane di antara teman yang lain sudah lebih
cepat menyelesaikannya, dia tidak menyerah dan akhirnya berhasil. Seperti
sebuah jawaban, Jane menangis dan perlahan hatinya mulai tenang. Bebannya mulai
terangkat sehingga menjadi lebih ringan.
Setelah
singgah di tempat istimewa itu, di atas kendaraan roda duanya Jane berpikir,
memulai kembali mungkin adalah salah satu jalannya saat ini. Seperti saat ujian
di kelas, ketika gagal mengulang lalu memulai kembali. Walaupun saat ini Jane
hanya sebagai pekerja lepas yang awalnya dipandang rendah oleh dia
sendiri. Namun, dia masih bisa berkesempatan untuk singgah di tempat
istimewa itu. Jane masih bisa belajar tentang kehidupan dengan melihat orang-orang yang dia temui
dalam perjalanannya. Dan memulai kembali menyusun rencana-rencananya yang telah
lama tersimpan.
Memulai kembali,
suatu kalimat yang mungkin tidak semua orang bisa dan mau melakukannya. Akan
tetapi saat masalah membelitmu, memulai kembali adalah salah satu cara mengenal
dirimu.
Komentar
Posting Komentar