Langsung ke konten utama

#1 Memulai Kembali

      Memulai kembali, suatu kalimat yang mungkin tidak semua orang bisa dan mau melakukannya. Termasuk Jane, seorang mahasiswi yang baru melempar toga wisudanya dua tahun lalu. Jane, yang dahulu dikenal seorang yang semangat, ramah, dan tidak pernah mengeluh. Sekarang lebih sering mengurung diri di kamar dengan wajah muram. Hal itu Jane rasakan sejak ia memutuskan berhenti bekerja seminggu lalu. Jane bekerja di salah satu perusahaan perintis di kotanya, dan termasuk pekerjaan pertamanya setelah lulus kuliah.

    Dengan rasa percaya diri bertemu dengan bagian manajer perusahaan dan menyampaikan maksud dia mengundurkan diri. Mereka terkejut karena Jane bukanlah karyawan yang memiliki kinerja buruk di kantor selama setahun bekerja. Jane beralasan berhenti untuk mengejar karir lain yang lebih menjanjikan dan diminati saat itu. Dengan berat hati, perusahaan mengizinkan permintaan Jane itu.

    Setelah memutuskan mundur, Jane berputar otak agar tetap bisa hidup. Jane juga tidak tinggal sendiri. Dia masih mencukupi kebutuhan keluarga termasuk adiknya yang baru masuk kuliah. Dengan sisa gaji yang dimilikinya, Jane berusaha melengkapinya dengan menjadi seorang pekerja lepas. Ilmu yang dia ingat saat sekolah dan kuliah ia gunakan dalam pekerjaannya. Namun, beberapa bulan menjalaninya, Jane merasa seperti hampa. Sama saja, kecil dan rendah, begitu pikirnya.

    Sembari menjalani pekerjaan lepas itu, Jane juga berusaha melamar ke perusahaan lain yang lebih menjanjikan itu. Namun, kemampuan dasar yang menjadi syarat dari pekerjaan itu belum ia miliki. Karenanya, dia mencoba mengikuti kursus. Namun, Jane yang ingin semuanya dia dapatkan dengan cepat merasa kecewa. Belum ada satupun lamarannya yang diterima perusahaan itu. Begitu pula yang lain sejenisnya.

    Dengan sedih, Jane membuka gawainya, dan membuka laman Instagram yang dimilikinya, berharap bisa mengobati kesedihannya. Namun, bukan sedih yang terobati, malah rasa sakitnya makin bertambah karena melihat teman-teman semasa kuliahnya mendapat pekerjaan yang dia inginkan. Berjalan-jalan keliling daerah, bahkan ada yang hingga keliling dunia. Jane yang saat itu hanya bisa berkeliling di sekitar rumah menangis melihatnya.

    Karena hanya itu yang Jane pikirkan, orang berhasil namun ia tidak. Dia jadi tidak maksimal dalam pekerjaannya. Jane melakukan hanya setengah hati, tidak seperti saat pertama kali menjadi pekerja lepas itu. Suatu hari saat langit memerah tanda malam akan tiba, saat dia dalam perjalanan pulang, dia mampir ke sebuah tempat. 

    Jane teringat saat dia berkuliah dulu, mentornya berkata jika kamu mengalami kesulitan, singgahlah ke suatu tempat istimewa. Tempat dimana semua keluh kesah bisa ditumpahkan, tanpa ada pendapat yang menghakimi. Dan dijamin setiap masalah akan terselesaikan. Itulah Rumah Tuhan. Rasa sempit di dada yang tidak muat lagi terbendung, dapat disampaikan pada Sang Pencipta, begitu kata mentornya.

    Dengan perasaan yang campur aduk, dia singgah ke tempat itu. Tidak hanya dia sendiri, banyak orang lain yang juga ke sana. Saat semuanya berdoa, Jane menangis. Menangis tiada henti, menyampaikan rasa sesaknya kepada Sang Pemilik Hati. Dengan lirih ia meminta, berharap agar diberikan ketenangan. Seketika, Sang Pencipta menolongnya lewat ingatan Jane yang muncul tiga tahun lalu. 

    Jane berhasil untuk menyelesaikan skripsinya dengan baik dan tepat waktu. Meski rintangan yang ia hadapi datang bertubi-tubi, meski Jane di antara teman yang lain sudah lebih cepat menyelesaikannya, dia tidak menyerah dan akhirnya berhasil. Seperti sebuah jawaban, Jane menangis dan perlahan hatinya mulai tenang. Bebannya mulai terangkat sehingga menjadi lebih ringan.

    Setelah singgah di tempat istimewa itu, di atas kendaraan roda duanya Jane berpikir, memulai kembali mungkin adalah salah satu jalannya saat ini. Seperti saat ujian di kelas, ketika gagal mengulang lalu memulai kembali. Walaupun saat ini Jane hanya sebagai pekerja lepas yang awalnya dipandang rendah oleh dia sendiri. Namun, dia masih bisa berkesempatan untuk singgah di tempat istimewa itu. Jane masih bisa belajar tentang kehidupan dengan melihat orang-orang yang dia temui dalam perjalanannya. Dan memulai kembali menyusun rencana-rencananya yang telah lama tersimpan.

    Memulai kembali, suatu kalimat yang mungkin tidak semua orang bisa dan mau melakukannya. Akan tetapi saat masalah membelitmu, memulai kembali adalah salah satu cara mengenal dirimu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Eps 1: Aku dan Tingkat Pertama]

Yapp, kali ini ku mau cerita tingkat pertamaku. Dimulai saat bertemu teman sekamar yang beda latar belakang, jurusan, dan asal daerah. Ada yang dari Samarinda, Sukabumi, dan Jakarta. Ada yang dari Teknologi Pertanian, Ekologi Manusia, dan Perikanan. Benar-benar teman kamar yang luar biasa, mereka mengajarkanku banyak hal. Mereka bisa mengimbangi sifatku yang seperti ini. Aktif dan banyak bercerita. Saat beradaptasi dengan lingkungan asrama yang mengajari hidup mandiri dan bersosialisasi. Dalam satu lorong asrama saja terdiri atas beberapa kamar, terdiri atas jurusan, budaya dan gaya hidup yang berbeda. Dipimpin oleh satu RT dan Senior Resident (orang yang menjadi "ibu" di tiap lorong asrama), banyak hal yang kudapat dari mereka, dari segi bahasa, keyakinan, dan karakter yang unik-unik. Saat mengikuti klub asrama yang mengayomi teman sebaya belajar (terutama yang berbau hitungan). Dilatar belakangi kegemaran berbagi ilmu ke orang lain, aku mengikuti klub ini, "Tutor Sebay...
Assalamualaikum. Sobat, apa kabar kalian hari ini? Semoga dalam keadaan baik-baik saja yaa… :)) Oh, iya kali ini aku mau coba hobi baru nih.. yaps, nulis di blog. Ini baru pertama kalinya lho nulis di blog, setelah biasanya nulis di IG atau disimpan di pikiran sendiri xD Nah, judul blog-ku kali ini adalah  "Journey to be a Moeslem Scientist". Kenapa judulnya gitu min? Karena ku ingin berbagi cerita baik dari pengalaman pribadi atau dari temen-temen di sekitarku yang luar biasa, terkait perjalanan hidupnya hingga harapannya menjadi ilmuwan muslim sejati, seperti Ibnu Sina atau Al Khawarizmi :)) Tak hanya berasal dari pengalaman, tapi karya-karya lain yang biasanya ku tulis di IG Insya Allah ku published di sini Semoga Sobat bisa mengambil hikmah dari apa yang aku tulis dan menjadi "The next Moeslem Scientist" Tak lupa juga kritik dan saran sobat sangat ku butuhkan untuk karya-karya tulis yang lebih baik lagi….. So, let's begin to create our journey -PR...