Hai sobat, perkenalkan, namaku Rahma. Kali ini aku mau share
kutipan cerita bagus, yang dikutip dari buku berjudul “Open Your Heart, Follow
Your Prophet”. Intinya tentang pengorbanan seseorang yang dia cintai.
Eit, yang dimaksud bukan doi ya, tapi lebih dari itu. Penasaran?
So, cekidot J
Ceritanya, ada sebatang pohon apel besar dan anak laki-laki
yang bermain di sekitar pohon itu. Anak itu senang memanjat pohon apel itu
hingga ke pucuknya. Dia juga makan buahnya dan tidur-tiduran di bawah rindang
daunnya. Anak itu sangat mencintai pohon itu, begitu pula sebaliknya.
Waktu telah berlalu, anak kecil itu tumbuh besar dan tidak
bermain lagi dengan pohon tersebut. Setelah sekian lama, anak itu mampir
mendatangi pohon apel itu sambil bersedih. “Ayo, bermain bersamaku!” ajak pohon
apel.
“Aku bukan anak kecil lagi yang suka bermain-main dengan
pohon”, ujar anak itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tidak punya
uang untuk membelinya”.
“Aku juga tidak punya uang. Tapi, kamu boleh mengambil semua
buahku dan menjualnya, lalu kamu bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan
kesukaanmu.” . Dengan senangnya, anak laki-laki itu memetik semua buah dari
pohon itu, lalu menjualnya. Setelah anak itu memperoleh keinginannya, dia tak
pernah muncul lagi. Pohon apel itu merasa sedih.
Di suatu hari yang cerah, anak laki-laki itu terlihat lagi “Ayo,
mainlah bersamaku lagi!” ujarnya. “Aku tidak punya waktu, karena harus bekerja
untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kamu
membantuku?” pinta anak laki-laki itu.
“Maaf aku tidak punya rumah. Tapi, kau boleh menebang dahan
dan rantingku untuk membangun rumahmu”, sahut pohon apel. Anak laki-laki itu
setuju, dan dengan gembiranya dia memotong semua dahan dan ranting pohon apel
itu. Pohon apel juga bahagia melihat anak laki-laki itu merasa senang. Namun,
sekali lagi setelah anak itu memperoleh keinginan memiliki rumah , dia tak
pernah muncul lagi. Pohon itu kembali merasa sedih dan kesepian.
Pada suatu musim, anak laki-laki itu datang kembali
menghampiri pohon apel. Sama seperti puluhan tahun sebelumnya, “Ayo, bermain
lagi denganku!” ujar si pohon apel. “Aku sedang sedih” kata anak laki-laki itu,
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin berlibur dan berlayar. Maukah kamu
memberiku sebuat kapal untuk berlayar?”
“Maaf………”, ujar pohon apel setelah menghela napas panjang. “Aku
tak punya kapal. Tapi, kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya
untuk membangun kapal yang kamu mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah!”.
Tak punya pilihan, anak laki-laki itu memotong batang pohon apel tersebut dan
mengubahnya menjadi kapal. Namun, sekali lagi setelah anak itu memperoleh
keinginan untuk berlayar, dia tak pernah muncul lagi.
Setelah sekian lama tak bertemu, suatu hari, anak itu datang
kembali menghampiri pohon apel itu. “Maaf, aku sudah tidak punya apa-apa lagi
yang bisa kuberikan padamu. Yang tersisa hanya akar-akarku yang tua dan sekarat
ini”, lirih pohon apel hingga butir-butir air menetes di pelupuk matanya. “Aku
tidak memerlukan apapun lagi sekarang. Yang kuperlukan hanya tempat untuk
istirahat, setelah sekian lama keliling dunia”, jawab sang anak, yang pada hari
itu bukan anak-anak lagi.
“Oh, baguslah. Kalau begitu, bersandarlah di pelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang. Tahukah kamu, akar-akar pohon
tua adalah tempat terbaik untuk bersandar, berbaring dan istirahat”
Anak laki-laki itu menurut, kemudian ia berbaring di pelukan
akar pohon apel serta mengistirahatkan tubuh dan jiwanya. Pohon apel itu sangat
gembira. Bibirnya tersenyum, hingga matanya berkaca-kaca. (tamat)
Nah, sobat. Coba bayangkan kalau pohon apel tersebut adalah
orang tua kita. Ketika kita masih anak-anak, kita senang bermain bersama
mereka. Ketika beranjak dewasa, kita mulai meninggalkan mereka dan hanya pulang
jika mengalami kesulitan. Tapi, tanpa peduli dengan tingkah kita, orang tua kita akan selalu memberikan apapun
yang mereka punya untuk kebahagiaan anaknya.
Yuk, mulai sekarang…. Cintailah orang tua kita. Berbaktilah padanya.
Jangan hanya tiap malam chat temen bahkan doi melulu, sempatkanlah waktu yang
kita jalani untuk menghubungi mereka, apalagi buat kamu yang merantau, jauh
dari orang tua. Ketika kita berbakti dan orang tua kita ridha, Insya Allah
segala urusan kita bakal dilancarkan selancar jalan tol Jakarta yang ditinggal
penghuninya mudik ke kampung halaman, hehe
Semoga kita bisa mengambil hikmah tentang pengorbanan orang
tua terhadap anaknya. Dan sebagai langkah awal kita untuk menjadi, “Moeslem
Scientist”. Bismillahirrahmanirrahim. Ganbatte!!
Komentar
Posting Komentar