"Ma, ikutan lomba ini yuk?"
Iya, ceritanya dua bulan lalu, aku diajak oleh temanku untuk mengikuti suatu kompetisi matematika di Jakarta. Dia adalah teman yang ku kenal semenjak ospek di kampus ternama di wilayah ku. Dan kuakui dia memang jago dibidang tersebut. Kami sering mengikuti kompetisi yang membawa nama jurusanku itu. Sebelumnya sejak SMA ku juga pernah mencoba mengikuti hal serupa, namun selalu gagal.
Dia mengajakku karena sebelumnya pernah menolak mengikuti ajang yang sama di tingkat nasional, yakni seleksi Olimpiade Nasional Perguruan Tinggi karena seleksinya bersamaan dengan kegiatan menghapal Al Qur'an di masjid kampus
Akhirnya, karena ku tidak ingin melewatkan kesempatan, aku pun menyanggupi tawarannya
"Oke, aku ikut....."
Seleksi tingkat jurusan ku jalani dengan senang hati, berharap kali ini bisa lolos dan membawa nama baik kampus. Alhamdulillah akhirnya namaku lolos bersama 9 orang lainnya, termasuk dia yang mengajakku.
Namun setelah pengumuman tersebut, untuk mempertahankan semangat itu ternyata tidak mudah, karena kegiatan selain akademik dan alasan alasan lainnya mulai menggerogoti semangatku itu. Aku tidak belajar dengan serius untuk persiapannya, yang tinggal sebulan lagi.
Berbeda dengan temanku yang setiap hari selalu berlatih saat di kelas atau sela sela jeda kuliah.
"Ma, jangan lupa persiapan ya. Nanti bisa ikut pelatihan nya kok, sama teman teman olimpiade lain". Aku pun merasa malu saat itu....
Hingga akhirnya, dua minggu menjelang perlombaan, aku dipasangkan dengan adik kelas yang juga ikut olimpiade. Aku terkejut, karena ku baru menyadari bahwa tidak mungkin terus bermalas-malasan seperti ini. Akhirnya di waktu yang tersisa, disaat kegiatan lainnya juga mulai padat, ku coba tuk persiapkan semuanya.
Malam harinya, satu hari menjelang perlombaan aku hanya bisa berkata ke kakak kelasku "Kak, mohon doanya, aku besok akan lomba, aku gak mempersiapkan dengan baik", begitu juga kepada sahabat yang juga mendukung ku dengan baik.
Sabtu pagi, di saat semua orang menikmati hari libur, kami berangkat menuju ibukota. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa berdoa dan berzikir agar bisa mengerjakan soal dengan baik (tidak memalukan). Tiba di tempat lombanya, dengan perasaan berdebar, aku dan rombongan beserta peserta dari kampus lain mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan. Perasaan menyesal juga muncul, karena materi yang diberikan ternyata tidak sesulit yang kubayangkan. Setelah lombanya selesai, aku hanya bisa meminta maaf ke teman satu timku itu. Aku pun juga tidak bisa berharap banyak saat itu, karena hanya dipilih 15 tim saja yang mengikuti final di Jogja (karena Jakarta hanya tempat seleksi regional)
Sepekan kemudian hasil seleksinya diumumkan. Ternyata temanku lolos ke final, bersama satu tim lainnya. Dan aku pun terkejut saat melihat peringkat semua peserta yang mengikuti lomba, timku ada di urutan 24 dari 89 tim yang ikut. Masya Allah, meski memang tidak bisa masuk final, aku benar benar mengucap syukur. Aku tidak menyangka, Allah masih membantuku dikala persiapanku dulu yang tidak 100 %, disaat diriku yang masih malas malasan, Allah Yang Maha Baik membantu timku menyelesaikan soal yang ada.
Saat itu, aku mulai belajar, ternyata memang usaha gak mengkhianati hasil. Dan teruslah mendekat pada-Nya. Karena hanya Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.
Bogor, 23 Februari 2019
Iya, ceritanya dua bulan lalu, aku diajak oleh temanku untuk mengikuti suatu kompetisi matematika di Jakarta. Dia adalah teman yang ku kenal semenjak ospek di kampus ternama di wilayah ku. Dan kuakui dia memang jago dibidang tersebut. Kami sering mengikuti kompetisi yang membawa nama jurusanku itu. Sebelumnya sejak SMA ku juga pernah mencoba mengikuti hal serupa, namun selalu gagal.
Dia mengajakku karena sebelumnya pernah menolak mengikuti ajang yang sama di tingkat nasional, yakni seleksi Olimpiade Nasional Perguruan Tinggi karena seleksinya bersamaan dengan kegiatan menghapal Al Qur'an di masjid kampus
Akhirnya, karena ku tidak ingin melewatkan kesempatan, aku pun menyanggupi tawarannya
"Oke, aku ikut....."
Seleksi tingkat jurusan ku jalani dengan senang hati, berharap kali ini bisa lolos dan membawa nama baik kampus. Alhamdulillah akhirnya namaku lolos bersama 9 orang lainnya, termasuk dia yang mengajakku.
Namun setelah pengumuman tersebut, untuk mempertahankan semangat itu ternyata tidak mudah, karena kegiatan selain akademik dan alasan alasan lainnya mulai menggerogoti semangatku itu. Aku tidak belajar dengan serius untuk persiapannya, yang tinggal sebulan lagi.
Berbeda dengan temanku yang setiap hari selalu berlatih saat di kelas atau sela sela jeda kuliah.
"Ma, jangan lupa persiapan ya. Nanti bisa ikut pelatihan nya kok, sama teman teman olimpiade lain". Aku pun merasa malu saat itu....
Hingga akhirnya, dua minggu menjelang perlombaan, aku dipasangkan dengan adik kelas yang juga ikut olimpiade. Aku terkejut, karena ku baru menyadari bahwa tidak mungkin terus bermalas-malasan seperti ini. Akhirnya di waktu yang tersisa, disaat kegiatan lainnya juga mulai padat, ku coba tuk persiapkan semuanya.
Malam harinya, satu hari menjelang perlombaan aku hanya bisa berkata ke kakak kelasku "Kak, mohon doanya, aku besok akan lomba, aku gak mempersiapkan dengan baik", begitu juga kepada sahabat yang juga mendukung ku dengan baik.
Sabtu pagi, di saat semua orang menikmati hari libur, kami berangkat menuju ibukota. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa berdoa dan berzikir agar bisa mengerjakan soal dengan baik (tidak memalukan). Tiba di tempat lombanya, dengan perasaan berdebar, aku dan rombongan beserta peserta dari kampus lain mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan. Perasaan menyesal juga muncul, karena materi yang diberikan ternyata tidak sesulit yang kubayangkan. Setelah lombanya selesai, aku hanya bisa meminta maaf ke teman satu timku itu. Aku pun juga tidak bisa berharap banyak saat itu, karena hanya dipilih 15 tim saja yang mengikuti final di Jogja (karena Jakarta hanya tempat seleksi regional)
Sepekan kemudian hasil seleksinya diumumkan. Ternyata temanku lolos ke final, bersama satu tim lainnya. Dan aku pun terkejut saat melihat peringkat semua peserta yang mengikuti lomba, timku ada di urutan 24 dari 89 tim yang ikut. Masya Allah, meski memang tidak bisa masuk final, aku benar benar mengucap syukur. Aku tidak menyangka, Allah masih membantuku dikala persiapanku dulu yang tidak 100 %, disaat diriku yang masih malas malasan, Allah Yang Maha Baik membantu timku menyelesaikan soal yang ada.
Saat itu, aku mulai belajar, ternyata memang usaha gak mengkhianati hasil. Dan teruslah mendekat pada-Nya. Karena hanya Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.
Bogor, 23 Februari 2019
Barakallah shalihah ^^ keep istiqomah and inspiring ^^
BalasHapus